Review of I Don't Know How She Does It (2011) by Efe O — 25 Mar 2012
Personally, saya memang belum menyelesaikan buku ini. Kalau tidak salah, saya berhenti tak jauh dari halaman 98, dimana saya menemukan sebuah kalimat:
"Namun, masa kanak-kanak yang bahagia bukan modal yang baik untuk berjuang dan meraih sukses; hidup serba kekurangan, dikucilkan, dan harus berdiri dalam hujan di halte bus merupakan bahan bakar yang lebih terandal.".
Sebuah kalimat yang membuat saya berhenti membaca saat itu juga.
Tiba-tiba fiksi seakan kehilangan esensinya dan menyublim dalam kenyataan. Ada suatu latar yang membuat cerita ini terkesan nyata. Saya membawa ingatan kembali ke masa-masa itu. Bersekolah dengan bekal seadanya yang akan habis begitu saja kalau saya tidak berjalan kaki melewati tanah perkuburan, hingga seringkali kehujanan setiap musim hujan tiba. Saya mengamini apa yang dikatakan Kate Reddy. Bahan bakar dari kenyataan masa lalu itu sangat teruji dan sangat dapat diandalkan. Tidak ada lagi batasan fiksi yang fiktif dengan kenyataan pengalaman yang paling nyata.
Setelahnya, tidak banyak halaman yang saya baca. Saya sudah lupa berhenti membaca di halaman berapa. Saya mencoba untuk membaca 2-3 halaman setiap pagi sebelum mulai bekerja, tapi tetap saja tidak berarti banyak dan buku ini tetap belum ditamatkan. Yang jelas, pengalaman membaca halaman 98 itu masih sangat terasa hingga saat ini. Setahun kemudian dimana saya belum juga menamatkan pembacaan buku tetapi sudah menamatkan versi filmnya.
Saya berharap bahwa apa yang dituliskan dalam catatan akhir buku ini benar-benar menjadi kenyataan. Bahwa, buku ini akan segera difilmkan. Kabar baik yang sangat saya tunggu karena seingat saya sudah setahun ini saya belum membuka lagi atau setidaknya mencoba menamatkan buku ini. Medio November 2011, ingatan saya tersentak karena saya melihat iklan film ini di sebuah harian ibukota. Dibintangi oleh Sarah Jessica Parker yang memerankan Kate Reddy dan Pierce Brosnan sebagai Jack Abelhammer, yang sudah terkenal duluan sebagai "Agent 007".
Apa yang saya harapkan itu benar-benar menjadi kenyataan. Dan seperti biasa, atas nama alibi kesibukan, saya tidak bisa menyempatkan diri untuk sekedar mampir ke bioskop. Tiba-tiba, iklan film itu sudah tidak ada lagi. Artinya, film sudah tidak ditayangkan. Namun, apa yang telah tiada bukanlah sesuatu untuk disesali. Masih ada toko DVD di Bandung yang (mungkin) masih akan menjualnya. Ya, saya akan menonton via DVD saja.
Weekend kemarin, saya pun membeli film ini di toko DVD langganan. Tadinya, saya berharap menemukan film lain "The Vow" yang trailernya sudah direview di sebuah acara radio. Karena belum ada, saya pun membeli DVD konser David Foster: The Hitman Returns. DVD David Foster kedua setelah David Foster and Friends. Lagi-lagi, saya tidak punya waktu untuk sekedar menonton barang se-chapter-dua chapter film. Semalam, baru saya menamatkannya.
Memang ada sedikit perbedaan antara film dan buku. Ini adalah hal yang lumrah dan bukan pertama kalinya. Setiap buku yang difilmkan tentu memiliki karakteristik dan jalan ceritanya sendiri. Supaya lebih memahami perbedaan diantara keduanya, saya sarankan agar membaca dulu bukunya baru menonton filmnya.
Saya cukup puas dengan detail yang ditampilkan dalam film. Setidaknya, tidak terlalu banyak missing points dari cerita versi buku. Inti muatan pesan pun tersampaikan. Keluarga adalah segalanya. Bahkan, hanya dengan lima menit saja itu sudah cukup berarti. Problema kehidupan berumah tangga seperti ini bisa dijadikan pelajaran bagi kaum muda yang baru mulai berkeluarga. Dibutuhkan lebih dari sekedar komitmen dan kesabaran untuk tetap konsisten menjalani peran kehidupan yang memang tidak mudah dan kadang telalu banyak tuntutan.
Pharmindo, 25 Maret 2012.
This review of I Don't Know How She Does It (2011) was written by Efe O on 25 Mar 2012.
I Don't Know How She Does It has generally received mixed reviews.
Was this review helpful?
