Review of Boyhood (2014) by Paulus Lulut Y — 09 Mar 2015
"It's a little bit like timelapse photography of a human being. And it's magic".
Menjadi salah satu insan perfilman Hollywood paling visioner, Richard Linklater sepertinya tidak pernah berhenti mengundang decak kagum khalayak perfilman lewat inovasi-inovasi dan pencapaian yang ia hasilkan. Dikenal kerap menghadirkan karya film yang out of the box, seperti Waking Life dan A Scanner Darkly, nama sang sineas berkumandang semakin kencang setelah ia mempersembahkan Before Midnight (BM) pada tahun 2013, yang karenanya membentuk saga trilogi sempurna dengan rentang waktu sembilan tahun antara film satu sama lainnya dengan dua film pendahulunya: Before Sunrise dan Before Sunset.
Hebatnya, dalam penyutradaraan paling gresnya ini siapa yang menyangka kalau sebuah terobosan besar kembali ia hadirkan. Di saat mungkin publik bertanya-tanya hal baru apalagi yang bisa diberikan sang sineas, yang skalanya mampu melampaui BM, yang oleh banyak kalangan saja diamini sebagai pencapaian yang teramat luar biasa, Boyhood seakan menjadi jawaban yang lugas atas pertanyaan itu.
Berangkat dari pemikiran sang sineas sendiri mengenai sensasi menarik kehidupan yang ia rasakan dan kekagumannya pada kisah novel Harry Potter, mendorong terciptanya gagasan untuk memfilmkan "kehidupan" dengan gaya penyutradaraan khasnya, yakni long term periode. Dibesut secara real time, alhasil, berbeda dengan film-film drama kehidupan lainnya yang penonton dapat dengan mudah melihat itu sebagai sajian artifisial, menyaksikan Boyhood tidak ubahnya melihat ulang pita rekaman mengenai kehidupan masa kecil kita yang dalam hal ini diwakili lewat perjalanan selama 12 tahun bocah laki-laki bernama Mason sejak ia berusia lima tahun hingga telah tumbuh menjadi pemuda berusia 17 tahun yang duduk di bangku kuliah.
Adapun, yang membuat film ini sangat fantastis adalah selain fakta bahwa apa yang dituangkan di sini begitu dekat dengan keseharian kita, Linklater meramu kisah yang diinginkannya dengan tingkat kesabaran tinggi dan kecermatan yang luar biasa. Sang sineas juga mempersenjatai dengan skrip matang yang ia bangun melalui dialog-dialog cerdas dalam menggulirkan roda plot utama yang membuat para pemain karakter kuncinya semakin terlihat bersinar.
Tidak lupa pula beberapa referensi tren yang tengah populer yang juga dimasukkan di sini membuat apa yang disajikan dalam film ini semakin efektif dalam memancing perasaan nostalgia khalayak penonton. Ditunjang penampilan para pemainnya yang bisa dimanfaatkan secara maksimal dan mampu tampil all out memberikan performa terbaiknya, sokongan tembang -tembang "menggigit", serta kinerja sangat apik di bagian penyuntingan, Boyhood sanggup membawa penontonnya mendapatkan sensasi sinematik yang sangat istimewa.
Secara overall, perlu ditekankan, meski seperti kebanyakan karya Linklater lainnya, Boyhood bukanlah tipe film yang bisa diterima setiap kalangan, akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa lewat film ini sang sineas kembali mempersembahkan sebuah paket tontonan yang teramat solid, terlebih itu semua ia wujudkan di tengah-tengah masa paceklik ide dan tema fresh yang dinilai tengah menyelimuti industri Hollywood satu dekade terakhir ini. Belum lagi, dalam prosesnya Linklater seakan-akan mewujudkan sebuah skema sinting dan meninggalkan suatu pertanyaan besar (berkaitan dengan kekhawatiran banyak kalangan terhadap kelanjutan masa depan dan perkembangan psikologis "hasil ciptaannya" yakni aktor pemeran Mason), meski kekhawatiran itu belakangan jika ditelaah ulang rasanya tidak beralasan, karena itulah nilai sempurna bukan hal yang berlebihan untuk disematkan padanya.
This review of Boyhood (2014) was written by Paulus Lulut Y on 09 Mar 2015.
Boyhood has generally received very positive reviews.
Was this review helpful?
