Review of Red Cliff (2008) by Appu B — 02 Nov 2010
Benar, seperti mengulang kesuksesan The Two Towers. Film ini langsung to the point ke inti cerita mengenai perebutan kekuasaan. Startegi dan dramatisasi perang yang tidak murahan adalah jualan film ini.
Tapi tidak seperti trilogi TLOTR yang masih mudah diterima dan dikuti oleh nyaris semua penonton, termasuk wanita, dengan ceritanya yang berbau fairy-tale dan bumbu romantisme, film ini memang lebih ditujukkan untuk pria.
Berbagai set, costume, special effect dan tata kamera film ini memang sangat kolosal. Endingnya dibuat menggantung. Tapi untuk saya sendiri film tipe jenis ini bukan selera saya, film ini menurut saya tetap agak susah dinikmati buat penonton yang awam dengan film perang, apalagi perang Mandarin.
Strategi perang yang sangat filosofis dan sulit dipahami dengan logika, menjadi hambatan untuk menikmatinya. Seperti formasi bangau, formasi kura-kura tanpa ada penjelasan yang memadai dari kegunaan formasi-formasi tsb.
Strategi perang adalah sesuatu hal yang melibatkan logika bukan? |SPOILER| Kalau ada sebuah formasi musuh di sebuah tanah lapang dan terdapat celah di antaranya, apakah tetap mau nekat merangsek masuk ke formasi itu? Musuh tersebut pasti punya rencana di balik formasi itu.
Mengapa tidak diserang dari atas dengan panah? |END OF SPOILER|. Tapi kalau anda menganggap hal seperti tadi tidak begitu penting untuk diketahui dan hanya ingin menikmati peperangan a la Sun Tzu dengan cerita di atas standar, maka film ini akan memuaskan anda.
Buat saya pribadi, merasa tidak perlu menyaksikan kelanjutannya.
This review of Red Cliff (2008) was written by Appu B on 02 Nov 2010.
Red Cliff has generally received positive reviews.
Was this review helpful?
