Review of Looking for Eric (2009) by Martin T — 24 Oct 2010
Gue selalu suka pada hampir semua film-film karya sutradara yang berkali-kali sukses di Cannes ini, dia selalu berhasil memberikan sebuah realita bahwa hidup tidak pernah mudah untuk dihadapi, masalah demi masalah tidak akan pernah selasai untuk datang dan pergi, entah seberapa merasa bahagia kita dari menit demi menit waktu berlalu dari hidup ini. Dan hanya orang bijak (atau berusaha bijak) yang selalu dengan sukses bisa melalui semuanya dengan penyelesaian yang baik buruknya yang memang memiliki konsekuensi tersendiri.
Film ini bukanlah karya terbaik sutradara yang menolak dari hinggar binggar Hollywood ini (Sweet Sixteen, 2002 dan The Wind that Shakes the Barley, 2006, adalah 2 karya terbaiknya), tetapi seorang masterpiece seperti Loach, selalu memberikan sebuah karya dengan sesuatu yang baru.
Adalah Eric, seorang pegawai kantor pos, dia harus hidup dengan 2 anak laki-lakinya, tidak begitu jelas kenapa salah satu anaknya berkulit hitam, entah anak angkat atau bagaimana, tidak ada penjelasan detail tentang itu. Dia harus menghadapai kebandelan dua anak laki-lakinya yang sedang berkembang dan susah untuk di kendalikan. Belum lagi masalah dengan masa lalunya yang selalu menghantui hidupnya bertahun-tahun. Selain itu kesehariannya di habiskan berkumpul bersama kerabat bekerjanya menikmati pertandingan bola, mereka pendukung berat club Manchester United.
Saat masalah sudah begitu menumpuk dia akhirnya menciptakan dunia sendiri, dunia dimana dia bisa dengan leluasa berbicara dengan pemain MU idolanya Eric Cantona, dengan Cantona, dia bisa bercerita banyak, meminta saran, mengeluhkan segala hal yang sedang menjadi perhatiannya,mereka bahkan berbicara layaknya sahabat lama yang selalu saling mendukung.
Dunia Eric bersama Cantona inilah yang menjadi bagian paling menarik dari film ini. Karena Eric terlihat begitu ceria dan lepas dan beban hidupnya. Eric begitu tergantung pada Cantona, dan memang perlahan Cantona berhasil membawanya pada poin poin penyelasain semua masalah yang sedang dihadapinya, masalah Ryan anak lelakinya yang terjebak pada pergaulan gangster, Cantona jugalah yang membantunya mampu menghadapi beban berat untuk kembali bisa berkomunikasi dengan mantan kekasih (yang juga adalah ibu dari anak sulungnya) dimasa lalu. Tqu to Cantona.
Steve Evets yang berperan sebagai Eric, tampil dengan acting sangat memikat, sosok laki-laki inggris yang gila MU, keras, dan cinta pada keluarga. Sayang penampilannya tidak mendapatkan apresiasi banyak dari forum film di Inggris terutama Bafta.
Film ini pada porsinya berhasil memberikan sebuah drama kisah cinta sederhana yang kembali hadir pada seorang yang masih menyimpan rasa, yang masih punya sesuatu yang bisa menjadi penyemangat hidupnya, sesuatu yang memang harus dicari dan harus dihadapi sebarat apapun beban itu.
Overall 7/10.
This review of Looking for Eric (2009) was written by Martin T on 24 Oct 2010.
Looking for Eric has generally received positive reviews.
Was this review helpful?
