Review of Full Frontal (2002) by Joel N — 24 Dec 2010
Hmm, film besutan Soderbergh yang satu ini sangat terasa sekali semangat idealismenya. Inovasi memang diperlukan, tapi jika semangat menantang arus ini kelewat besar, hal ini menjadi pertaruhan yang besar.
Dibandingkan dengan filmnya yang lain, menurut saya ini yang paling susah untuk dinikmati. Pertama, seluruh penyajian film ini mengggunakan handheld camera agar terasa lebih natural. Sehingga ada kesan anda sedang menonton film amatir dengan peralatan seadanya.
Hal ini tidak begitu menjadi soal kalau anda sudah terbiasa. Kedua adalah plotnya. Film ini disajikan dengan gaya multiplot. Keterkaitan yang ada hanya hubungan kekerabatan saja antar karakter, tapi tidak memiliki keterkaitan yang lebih jauh dengan ceritanya sendiri.
Lebih jauh, cerita yang dihadirkan juga cerita sehari-hari yang sederhana dan digarap dengan tidak menarik. Ketiga, film ini mencoba sesuatu hal yang tak lazim, film ini memperlihatkan bahwa anda memang sedang menyaksikan sebuah film?! Ada satu sampai dua scene yang memperlihatkan crew behind the movies, dan aktor/ aktrisnya "keluar" dari karakter yang pertama kali diperkenalkan pada penonton dan menjadi diri mereka sendiri (tapi masih bukan nama sebenarnya).
Kedengarannya memang jenius, tapi hal ini sangat mengganggu kenikmatan saat menyaksikannya, terutama ketika mereka kembali menjadi aktor/aktris dan meneruskan cerita. Saya pribadi merasa melihat lukisan abstrak Picasso yang hanya ia sendiri yang bisa menafsirkan apa yang hendak disampaikannya.
This review of Full Frontal (2002) was written by Joel N on 24 Dec 2010.
Full Frontal has generally received mixed reviews.
Was this review helpful?
