Cinafilm has over 5 million movie reviews and counting …
Sitemap
Search

Last updated: 04 Jul 2026 at 16:12 UTC

Back to movie details

Review of by Claudia W — 09 Mar 2015

Share
Tweet

Bagi para penikmat film Hollywood khususnya yang menggemari genre fiksi ilmiah menyerempet-nyerempet unsur horor, pasti sudah mengetahui bahwa monster berukuran raksasa bukan merupakan perihal yang aneh disajikan dalam sebuah film produksi Hollywood. Namun, meski demikian, bila dibandingkan dengan monster Godzilla asal Jepang, hanya King Kong yang memiliki reputasi mendunia di ranah perfilman, itupun kemunculannya lebih awal dari monster kadal yang dalam saganya diceritakan tercipta akibat mutasi nuklir.

Rupanya, hal tersebut menjadi bahan pemikiran mendalam J.J. Abrams. Dengan gagasan bahwa Amerika (Hollywood-red) dirasanya belum dan perlu memiliki monsternya tersendiri, Abrams yang berkolaborasi dengan Drew Goddard menyusun naskah film mengenai serangan monster berukuran raksasa yang tiba-tiba muncul di New York dengan fokus lima warga kota yang tengah menggelar pesta perpisahan untuk salah satu rekannya dan mereka terjebak dalam situasi tersebut. Untuk penyutradaraannya Abrams menyerahkannya pada Matt Reeves.

Dikisahkan, menjelang kepergian Rob (Stahl-David) ke Jepang karena dipromosikan oleh perusahaannya, saudara Rob yang bernama Jason bersama kekasihnya, Lily menggelar pesta perpisahan untuk sang adik, yang acaranya didokumentasikan oleh Hud, salah satu sahabat mereka. Di tengah-tengah acara, Beth "teman istimewa" Rob pergi meninggalkan pesta setelah sebelumnya sedikit cekcok dengan yang punya hajat.

Konflik berawal ketika tidak lama dari situ kota dilanda gempa yang mengakibatkan aliran listrik terputus. Dilanda kepanikan, para hadirin pesta berhamburan keluar, di mana mereka melihat puing kepala patung Liberty yang tergolek di jalanan, dan lalu melihat dengan mata kepala sendiri sesosok makhluk raksasa yang menjadi biang keladinya. Situasi bertambah rumit bagi Rob saat ia mendengar pesan dari Beth yang menginformasikan bahwa ia terperangkap di apartemennya dan tidak bisa bergerak. Maka, Rob, Hud, Lily, dan Marlena (salah satu tamu pesta) tidak mengindahkan bahaya yang mengancam demi menyelamatkan Beth, meski pasukan militer yang datang untuk menanggulangi dan memerangi monster itu sudah menyatakan wilayah itu sebagai pusat bahaya dan berencana melancarkan pengeboman nuklir dengan sandi "Hammer Down Protocol" yang bakal mengakibatkan kehancuran kota.

Dengan teknik pengambilan gambar bergaya found footage, Abrams berhasil menuntaskan ambisinya untuk memberikan audiens sebuah sajian film tentang serangan monster yang sulit terlupakan. Betapa tidak, dari tahap perencanaan hingga menjelang perilisannya, tingginya tingkat kerahasiaan yang dijaga oleh Abrams bersama timnya, membuat proyek ini sukses memancing rasa ingin tahu banyak kalangan.

Untungnya, hasil yang dicapai terbukti tidak sia-sia. Penggunaan gaya tersebut terbukti memberikan keuntungan sendiri dalam berbagai aspek, yang membuat apa yang disajikan di sini terlihat nyata dan mampu membangun aura kengerian bernapas fiksi ilmiah secara efektif. Diproduksi dengan bujet produksi $25 juta, Cloverfield mampu menorehkan raihan lebih dari $17 juta di masa perilisannya. Walaupun respon yang dituainya beragam, film ini diamini menjadi salah satu film yang profilnya paling populer di ranah fiksi ilmiah dua abad belakangan ini.

This review of Cloverfield (2008) was written by on 09 Mar 2015.

Cloverfield has generally received positive reviews.

Was this review helpful?

Yes
No

More Reviews of Cloverfield

More reviews of this movie

Reviews of Similar Movies

More Reviews

Share This Page

Share
Tweet

Popular Movies Right Now

Movies You Viewed Recently

Get social with CinafilmFollow us for reviews of the latest moviesCinafilm - TwitterCinafilm - PinterestCinafilm - RSS