Review of Closer (2014) by Arban K — 15 Mar 2011
Jangan menyaksikan film ini jika mengharapkan romantisme yang mendayu-dayu. Closer adalah sebuah kisah cinta yang tidak romantis. Closer adalah sebuah tamparan. Tamparan terhadap cinta, pengkhinatan, dan ketidakjujuran.
Ditopang oleh naskah yang brilian oleh Patrick Marber (berdasarkan naskah drama panggung-nya), dan juga penampilan yang memukau dari empat karakter utamanya; Closer menyajikan suguhan yang kasar tetapi indah, jujur, dan apa adanya.
Closer berani mengatakan bahwa terkadang yang terbaik adalah tidak saling memiliki, bahwa yang terbaik itu tidak selamanya sesuatu yang indah.Closer merupakan sebuah terapi kehidupan. Memberikan pemahaman baru akan suatu hubungan, sampai sejauh mana kita berani berdusta, dan sampai sejauh mana kita berani mengungkap kejujuran.
Ending film ini pun menghadirkan metafora dan ironi yang kuat. Bahwa selama apapun kita berhubungan dengan seseorang, kita tidak akan pernah bisa tahu siapa sebetulnya pasangan kita. Selalu ada hal-hal yang menjadi rahasia dalam suatu hubungan, dan kejujuran itu ternyata memang sulit dan seringkali pahit.
Tetapi tidak ada yang lebih pahit daripada pengkhinatan; dan pengkhianatan adalah sesuatu yang brutal. Seperti dikatakan karakter Dan: "Deception is brutal, I'm not pretending otherwise.".
This review of Closer (2014) was written by Arban K on 15 Mar 2011.
Closer has generally received positive reviews.
Was this review helpful?
